FINISHING POLITUR

•29/03/2010 • Leave a Comment

Berikut file tentang teknik politur :

Penyelesaian akhir politur VERSI Produktip

Cukil Kayu

•29/03/2010 • Leave a Comment

BAB I

PENDAHULUAN

A. Deskripsi

Mata Diklat ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang teknik kerja ukir/cukil, alat  yang digunakan untuk kerja ukir/cukil, cara menggunakan pahat ukir/nukil, serta cara mengukir/mecukil sederhana motif geometris.  Dalam penyajianya dilakukan dengan metode pembelajaran orang dewasa meliputi: ceramah, tanya jawab, curah pendapat, demonstrasi dan pelatihan.

B. Prasyarat

Sebelum mempelajari modul ini, Anda harus memiliki pengetahuan tentang

  1. Macam-macam jenis kayu
  2. Susunan serat kayu
  3. Jenis jenis pahat ukir/pisau ukir
  4. Kualitas pahat ukir/pisau ukir
  5. Cara mengasah dan merawat pahat ukir/pisau ukir
  6. Macam – macam pahat ukir

C. Petunjuk Penggunaan Modul

1. Penjelasan bagi Peserta.

    • Cermati isi modul secara keseluruhan.
    • Ikuti langkah-langkah belajar yang ada pada setiap modul
    • Perhatikan kesehatan dan keselamatan kerja
    • Selesaikan modul  sesuai dengan rentang waktu yang ditentukan.
    • Perhatikan dan ikuti prosedur penilaian sesuai dengan kriteria yang ada pada modul
    • Mengajak peserta untuk mencermati isi modul secara keseluruhan
    • Diskusikan dengan peserta untuk menyelesaikan modul sesuai dengan rentang waktu yang ditentukan.

      2. Penjelasan bagi Widyaiswara

      D. Tujuan Modul

      Setelah mengikuti pembelajaran mata diklat ini peserta diharapkan mampu memahami pengertian tentang teknik ukir/cukil, alat yang digunakan kerja ukir/cukil, cara menggunakan pahat ukir/nukil,  mengukir/menukil dasar motif geometris.

      E. Cek Kompetensi

      1.  Sebutkan macam alat dan bahan untuk melaksanakan pekerjaan ukir/cukil !

      2.  Jelaskan fungsi alat dan bahan untuk melaksanakan pekerjaan ukir/cukil !

      3.  Jelaskan teknik membuat ukir/cukil dasar !

      4.  Berikan contoh prosedur untuk membuat ukir/cukil  dasar geometris !

      BAB II

      PEMBELAJARAN

      Kegiatan Belajar

      Untuk menguasai teknik ukir/nukil atau nukilan kayu sepintas mudah dilakukan tetapi apabila dipraktekkan akan menemukan beberapa problem yang berkaitan dengan penguasaan  posisi pisau pada saat praktek. Karakter serat kayu  perlu diperhatikan agar dapat dikerjakan dengan mudah. Cara kerja atau dengan  ditorehkan  agar hasil nukilan  baik. Pemahaman gambar ornamen pada produk yang akan dibuat serta menguasi  ketrampilan memegang pisau cukil  agar penggunaan pisau cukil saat membuat produk nyaman sesuai desain / gambar rencana.

      Beberapa hal  diatas merupakan masalah yang harus dicoba, dipraktekkan dan dikuasai pada latihan dasar  cukil, agar  keteknikan dasar dikuasai

      Untuk obyek latihan dapat dibuat produk yang  sederhana dengan obyek bentuk  berupa torehan bentuk V pada komponen produk  berbentuk bidang datar untuk dijadikan tempat surat & ballpoint, jam duduk dengan hiasan ornamen geometris  sederhana/tidak rumit,sebagai tuntunan melatih ketrampilan dasar melaksanakan kerja ukir/nukil, misalnya membuat nukilan   unsur:

      1. Ornamen bentuk segi tiga dan bentuk garis zig-zag
      2. Ornamen bentuk  segi empat / belah ketupat
      3. Ornamen bentuk setengah lingkaran yang dibuat gelombang dll

      A. Kegiatan Belajar 1
      1. Tujuan Belajar

      Setelah mengikuti pembelajaran mata diklat ini peserta diharapkan mampu memahami  pengertian tentang teknik ukir/cukil, alat yang digunakan kerja ukir/cukil, cara menggunakan  pahat ukir/cukil,  mengukir/mecukil dasar motif geometris.

      2. Uraian Materi (Teori)
      1. a. Pengertian Teknik Ukir/Cukil

      Cukil kayu / woodcut yang sering disebut juga sebagai xilografi (xylography), sebagai teknis grafis paling awal, telah lama  ditinggalkan meskipun sebenarnya masih cukup bermanfaat bagi beberapa kebudayaan, mengingat kelebihan-kelebihan yang bermanfaat bagi perjuangan-perjuangan pada kondisi tertentu.

      Teknik cetak relief ini menghasilkan gambar maupun tulisan melalui proses pencetakan menggunakan permukaan lembar kayu ataupun lembar linoleum yang dipahat atau dicukil menggunakan tatah sebagai pencetak setelah dibubuhi cat atau pewarna pada kain maupun kertas yang sedikit dibasahi.

      Apabila ingin menggunakan kombinasi warna, maka kita harus menggunakan cetakan yang berbeda bagi setiap warna yang digunakan. Teknik pencetakan ini bertolak belakang dengan teknik cetak intaglio dan etsa (etching) yang justru bagian yang tergores menampung tinta yang kemudian dicetakkan pada kertas.

      Teknik cukil kayu ini di China telah digunakan untuk mencetak gambar dan tulisan sejak abad ke-5. sedangkan di Eropa teknik ini dikembangkan sekitar tahun 1400an hingga teknik serupa dimassalkan oleh Gutenberg.

      Di Jepang cukil kayu yang dikenal sebagai Ukiyo-e, pernah mengalami masa keemasan di masa periode Edo (1600-1868 Masehi). Cetakan-cetakan tersebut berupa fiksi yang banyak bersubyekkan dunia Geisha serta prostitusi yang marak di jaman feodal Jepang saat itu.

      Dengan adanya Restorasi Meiji, sebagai respon dari tekanan Komodor Perry bersama Delegasi Amerika dalam Perjanjian Tanagawa pada tahun 1854 untuk membuka pasar serta peradabannya. Setelahnya, para interprenur barat telah memboyong tradisi seni Jepang ke dunia barat terutama ke Paris.

      Setelah kedatangan mereka, produk-produk seni budaya termasuk tradisi cukil kayu membanjiri dunia barat terutama Paris yang menjadi pusat kesenian saat itu. para pelukis beraliran Impresionist maupun post-Impresionis beramai-ramai menggunakan semangat, teknik ataupun efek teknik Ukiyo-e dalam berkarya.

      Di Eropa banyak pula pekarya yang menggunakan media ini untuk berkarya serta mengekspresikan pandangan sosial politiknya. Sebut saja Kathe Kolwitz yang begitu menyentuhnya dalam menggambarkan pergolakan politik di masa dan tempatnya berpijak.

      Sedangkan di Indonesia cukil kayu menjamur sebagai alat untuk memotret realita. Penggunaan media cukil kayu pernah mencapai masa keemasannya ketika media ini diusung oleh Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi yang berbasiskan mahasiswa-mahasiswa ISI (Institut Seni Indonesia). (Ukil Kayu Media Propaganda Kerakyatan. www.concern.net)

      1. b. Bahan yang Digunakan Kerja Cukil

      1). Kayu Jati

      Kayu jati atau latinnya disebut tectona grandis, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet I-II, dan kelas kuat II. Kayu jati memiliki corak warna khususnya pada kayu terasnya coklat agak muda sampai tua kehijau-hijauan. Corak warna kayu jati ini mempunyai nilai dekoratif yang sangat indah dan menarik, menyebabkannya banyak diminati oleh para pengusaha mebel maupun industri pengolahan kayu.

      Selain keindahan corak, kayu jati mempunyai sifat pengerjaan yang mudah sampai dengan sedang, daya retak rendah, serat lurus atau berpadu walaupun memiliki tekstur yang agak kasar. Kayu jati dalam kegunaannya adalah termasuk kayu yang istimewa karena dapat digunakan untuk semua tujuan (serbaguna).

      2). Kayu Mahoni

      Kayu mahoni adalah klasifikasi yang termasuk dalam famili

      meliaceae. Ada dua jenis spesies yang cukup dikenal yaitu swietenia macrophylla (mahoni daun lebar) dan swietenia mahagoni (mahoni daun kecil). Mahoni daun kecil tidak dianjurkan untuk dikembangkan karena sangat peka terhadap serangan hama penggerek pucuk.

      Tanaman ini tumbuh pada tipe iklim A sampai D, yaitu daerah bermusim kering atau

      basah. Ketinggian tempat yang sesuai untuk tanaman ini berkisar antara 0-1000 m dari permukaan laut. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 40 m dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 100 cm.

      Tajuknya berbentuk seperti kubah, kayu lunak atau gubal berwarna merah muda, sedangkan kayu teras berwarna merah hingga coklat tua. Kayu mahoni dapat dipergunakan untuk mebel, vinir, alat olah raga, alat musik dan keperluan bangunan. Agar diperoleh kayu yang berkualitas baik untuk pertukangan, kayu ini dipanen setelah berumur 30 tahun atau lebih.

      Mahoni berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tanaman ini masuk ke Indonesia pada tahun 1872 melalui India, kemudian dikembangkan secara luas di pulau Jawa sekitar tahun 1892-1902. Pohon akan berbuah setelah tanaman berumur 12 tahun atau lebih yaitu pada bulan Juli sampai dengan Agustus. Buah yang masak berwarna cokelat hingga cokelat tua (PIKA, 1981).

      3). Kayu Suren/surian

      Kayu suren (toona sureni merr) merupakan jenis kayu yang

      memiliki warna merah daging. Kayu suren ini memiliki sifat kembang susut besar dan tingkat keretakan tinggi. Kayu suren juga memiliki tekstur yang agak keras dan agak halus, serat lurus bergelombang dan termasuk dalam kategori kayu kelas awet IV dan kelas kuat III-IV berat jenis kering udara rata-rata 0,39.

      Berdasarkan sifat-sifat yang ada, kayu suren ini biasanya digunakan untuk kayu perkakas, papan, peti, kotak

      serutu, kayu bangunan, plywood, rangka pintu dan jendela, kayu

      perkapalan, seni ukir dan pahat, potlot, moulding. (PIKA, 1981).

      4). Kayu Sungkai

      Kayu sungkai atau jati sabrang latinnya disebut pronema

      canescens Jac, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet III, dan kelas kuat II-III. Kayu sungkai memiliki corak warna kayu teras kering udara putih kekuning-kuningan. Kayu sungkai mempunyai sifat pengerjaan mudah, namun daya retaknya cukup tinggi, serat lurus bergelombang dan memiliki tekstur agak kasar.

      Kayu sungkai dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, kayu perkakas, lantai, papan, seni ukir dan pahat, finir mewah serta sebagai kayu ornamentil.

      5). Kayu Pulai

      Kayu pulai atau lame, legarang, stoolwood nama latinnya alstonia, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet III-V, dan kelas kuat IV. Kayu pulai memiliki corak warna kayu teras kering udara putih kekuning-kuningan. Kayu pulai mempunyai sifat pengerjaan mudah, kembang susut sedang, serat berpadu dan memiliki tekstur agak kasarhalus.

      Kayu pulai dalam kegunaannya plywood, peti, seni ukir dan pahat, korek api, pulp, alat gambar, moulding, papan dan hack sepatu.

      6). Ampelas

      Ampelas

      1. c. Alat yang Digunakan Kerja Ukir/Cukil

      1).  Alat-alat Pokok

      Alat-alat pokok adalah perkakas yang harus disediakan dalam pekerjaan kriya,  alat-alat pokok berupa:

      a). Gunting

      Gunting tidak digunakan dalam pemotongan kayu. Namun, gunting digunakan sebagai sarana pembantu untuk memotong mal kertas atau karton.

      Gambar Gunting

      b). Pisau Cukil

      Pisau cukil dibuat dari besi baja dengan tangkai dibuat dari kayu. Cara pemakaian seperti memegang pensil atau pulpen layaknya menggambar tidak dipukul seperti pahat ukir. Pisau cukil yang digunakan pengrajin relief dan cinderamata di berbagai daerah di Indonesia bermacam – macam bentuknya. Pengrajin relief menggunakan pisau cukil yang bertangkai.

      Bentuk mata pisau lancip, datar, lengkung penggunaannya bisa diganti sesuai kebutuhan. Cara melepas/memasang mata pisau dengan memutar ring pisau, kemudian mata pisau dikeluarkan/dimasukkan dalam tangkai pisau yang ada ringnya. Ring pisau diputar kekiri untuk melepas dan kekanan untuk mengencangkan.

      Di Indonesia tidak terlalu banyak terutama untuk mata pisau utama, kecuali pisau tambahan. Pisau cukil  ini matanya dibuat  sesuai dengan keperluan. Pisau ini sangat berguna untuk membuat garis berbentuk V, cukilan kayu lunak bermotif geometris yang hasilnya hanya torehan/cukilan dangkal, seperti jenis ukiran geometris yang khas yang dibuat oleh pengrajin dari Toraja.

      Perawatan alat cukil (pisau cukil) pada dasarnya hampir sama perawatan dengan alat ukir/ pahat ukir, pisau dibuatkan sarung dari kulit/ kain yang tebal untuk menjaga mata pisau dari benturan benda keras dan keamanan dalam membawa.

      Gambar Pisau Cukil

      c). Pensil

      Pensil digunakan untuk membuat gambar kerja (mendesain) selain itu juga digunakan untuk menandai ukuran dan memindahkan gambar pola pada benda kerja

      Pensil ada beberapa jenis, ukuran dari  keras dan lunaknya. Contoh 2B, 4B,  6B dan sebagainya.

      Gambar Pensil

      d) Lem

      Lem kertas digunakan untuk merekatkan pola pada kayu yang akan dicukil

      Gambar Lem Kayu

      e) Kuas

      Kuas digunakan untuk mengoleskan bahan finishing dengan cara dicat poster hasil cukilan

      Gambar Kuas

      1. d. Cara menggunakan Pisau Cukil

      Pemakaian pisau cukil dengan cara seperti memegang pensil atau pulpen layaknya menggambar. Torehan miring kiri dibalas dengan torehan miring kanan/sebaliknya sesuai dengan garis gambar/desain ornamen yang dibuat  tidak dipukul seperti pahat ukir.

      Cara melepas/memasang mata pisau dengan memutar ring pisau, kemudian mata pisau dikeluarkan/dimasukkan dalam tangkai pisau yang ada penjepit pada bagian tengah tangkai pisau dan ringnya sebagai penguat. Ring pisau diputar kekiri untuk melepas dan kekanan untuk mengencangkan.

      Pemasangan dan pemakaian pisau cukil tersebut harus hati-hati dilakukan sesuai prosedur pemakian

      1. e. Mencukil Dasar Motif Geometris

      1). Merencanakan desain atau gambar kerja

      Gambar kerja merupakan tuangan ide yang unik lagi artistik pada suatu bidang gambar. Rencana atau desain ini harus dibuat terlebih dahulu sebab tanpa melalui fase ini proses pembuatannya nanti akan terhambat atau akan gagal.

      2). Memilah gambar

      Gambar yang dipilih beberapa alternatif yang dibuat karya cukil.Pilihan gambar dibuat jelas atau diperjelas  sebab akan dijadikan sebagai penghantar tinta dan mana yang bukan.
      3). Memindahkan rencana atau desain tersebut ke permukaan atau bidang papan kayu

      Gambar atau pola dibuat dengen sekala 1: 1 sesuai bentuk yang diinginkan dengan garis tegas dan jelas yang akan dicukil atau ditoreh.

      4). Menoreh atau mencukil

      Bagian yang tidak digunakan untuk menghantarkan tinta ( bagian negatif) dengan menggunakan pisau cukil( wood cut). Teknik mencukil ini hendaknya memperhatikan arah serat kayu, disamping itu kondisi alat cukilnya juga tajam.
      5). Penyelesaian cukil

      Setelah pekerjaan menoreh atau mencukil diangap selesai, maka acuan cetak telah terwujud, dengan demikian acuan siap untuk dilumuri warna atau tinta cetak terlebih dahulu.

      Pada prinsipnya setiap acuan atau bagian yang positif akan dipergunakan dalam proses pencetakan hanya untuk satu warna saja. Oleh karena itu bila menghendaki atau ingin membuat karya yang multi warna atau poli warna, maka acuan yang dipergunakan untuk menghantarkan warna harus sesuai dengan jumlah warna yang dikehendaki. Tanpa menyiapkan atau merencanakan desain yang lengkap atau rinci alan mengalami kesulitan dalam mencari ketepatan atau kesempurnaan hasil cetakannya.

      Dengan demikian untuk memudahkan dan mencari ketepatan atau kesempurnaan hasil karya, pertama-tama harus dibuat desain induk yang telah lengkap dengan warna yang dikehendaki,yang kemudian dibuat separasi gambar kerja. Sehingga untuk setiap warna ditera terpisah pada bidang bahan acuan yang berlainan

      3. Tugas

      4. Kunci Jawaban Tugas

      B. Kegiatan Belajar 2

      Mencukil dasar geometris untuk  membuat Tempat Foto.

      1. Tujuan Kegiatan Pembelajaran

      Setelah mengikuti pembelajaran mata diklat ini peserta mampu:

      1. Menjelaskan pengertian tentang teknik ukir/cukil
      2. Menguraikan bahan dan alat yang digunakan untuk kerja ukir/cukil
      3. Mengukir/mecukil dasar motif geometris
      4. Menggunakan pahat ukir/cukil
      5. Alat
      2. Uraian Materi (Praktek)

      Pisau cukil, gunting, pensil, lem, kuas

      1. Bahan

      Kayu mahoni ukuran 10 cmx15cmx 1cm, ampelas , no. 150/180 (sedang), no. 240/280 (halus), cat poster

      1. Proses Kerja

      1)    Persiapan

      a.)  Siapkan bahan, alat dan tempat kerja Anda

      b.)  Membuat pola gambar kerja pada bahan yang telah disiapkan, kemudian dikerjakan  sesuai  dengan gambar desain / pola.

      c.)   Cermati bentuk yang akan diraut sesuai pola dan prototype yang disediakan instruktur/pengajar.

      2)    Langkah Kerja

      a.)                                                          Merencanakan desain atau gambar kerja

      Gambar Merencanakan Desain

      b.)                                                          Memilah gambar

      Gambar Memilih Gambar yang Digunakan Cukil

      c.) Memindahkan rencana atau desain tersebut ke permukaan atau bidang papan kayu

      Gambar Memindahkan Gambar ke Permukaan Kayu

      d.) Menoreh atau mencukil

      Gambar Menoreh/mencukil

      e.) Penyelesaian cukil

      Gambar Penyelasaian Cukil

      3. Tugas

      Buatlah sebuah karya cukil dengan motif organis dalam bentuk karya hiasan atau benda fungsi

      BAB III

      EVALUASI BAB II

      A. Evaluasi

      B. Kunci Jawaban

      DAFTAR PUSTAKA

      Sambungan Kayu Sederhana

      •19/03/2010 • Leave a Comment

      BAB I

      PENDAHULUAN

      Konstruksi yang digunakan untuk benda kerja  kayu banyak jenis-jenisnya dan sistem pemakaiannyapun berbeda-beda. Konstruksi tersebut ada yang digunakan untuk konstruksi sederhana, sedang dan  berat. Konstruksi sederhana misalnya pada cendramata, kotak perhiasan, Konstruksi sedang misalnya dipakai pada mebeler dan yang berat konstruksi pada bangunan.

      A. Deskripsi

      Dalam modul ini anda akan mempelajari macam-macam konstruksi, pembentukan komponen, pembuatan komponen kriya kayu dengan alat tangan sesuai standar. Setelah menguasai modul ini diharapkan mampu membuat mebeler dan benda kerja lain dengan baik sesuai prosedur yang benar.

      B. Prasyarat

      Sebelum memulai praktek diharapkan anda sudah paham dengan bahan dan alat serta cara penggunaannya. Perhatikan perlengkapan keselamatan kerja. Peralatan yang tajam, bahan kayu yang baik bebas dari cacad kayu dan sudah dikeringkan. Sebelum bekerja Anda harus sudah dapat

      1. Mengukur bahan dengan tepat
      2. Memotong lurus dan miring dengan tepat
      3. Menyambung dengan benar dan tepat sesuai standar

      C. Petunjuk Penggunaan Modul

      1.   Penjelasan bagi Petatar.

      a.   Cermati isi modul secara keseluruhan.

      b.   Ikuti langkah-langkah belajar yang ada pada setiap modul

      c.   Perhatikan kesehatan dan keselamatan kerja

      d.   Selesaikan modul sesuai dengan rentang waktu yang ditentukan.

      e.   Perhatikan dan ikuti prosedur penilaian sesuai dengan kriteria yang ada pada modul

      2. Penjelasan bagi Penatar

      a.   Ajaklah petatar untuk mencermati isi modul secara keseluruhan

      b.   Lakukan pengontrolan dan bimbingan pada setiap langkah belajar yang dilakukan petatar pada setiap bagian modul.

      c.   Perhatikan kesehatan dan keselamatan kerja

      d.   Bimbinglah petatar untuk menyelesaikan modul sesuai dengan rentang waktu yang ditentukan.

      e.   Lakukan penilaian sesuai dengan prosedur dan kriteria yang ada pada modul.

      D. Tujuan Modul

      Setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta diklat dapat

      1. Memahami macam-macam konstruksi dan fungsinya
      2. Mengetahui prosedur pembuatan komponen
      3. Menyiapkan bahan dan alat membuat konstruksi
      4. Membuat teknik komponen konstruksi sesuai prosedur

      E. Cek Kompetensi

      1.   Jelaskan bahan serta alat apa yang harus disediakan !

      2.   Jelaskan langkah kerja yang harus dilaksanakan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi kriya kayu dengan alat tangan yang harus disediakan !

      3.   Sebutkan sambungan yang biasa digunakan pada laci meja !

      4.  Berapa macam sambungan yang anda ketahui pada konstruksi kriya  kayu menggunakan alat tangan ?

      BAB II

      PEMALAJARAN

      Kegiatan Belajar

      Dalam kegiatan belajar ini akan dibahas beberapa langkah untuk mengerjakan pembentukan komponen kayu dengan alat tangan. Lingkup belajar materi ini adalah membentuk  dan membuat komponen kayu dengan alat tangan sesuai dengan standar, macam-macam konstruksi kayu dan funsinya, alat yang digunakan untuk mengerjakan konstruksi, prosedur membentuk dan membuat konstruksi.

      A. Kegiatan Pemelajaran 1

      Membuat komponen kriya kayu dengan alat tangan

      1. Tujuan Kegiatan Pemelajaran

      Setelah mempelajari modul ini peserta dapat

      1. Menyebutkan macam-macam komponen kriya kayu dan fungsinya
      2. Mengetahui prosedur membuat / membentuk komponen kriya kayu dengan benar
      3. Melakukan pelatihan pembuatan komponen kriya kayu dengan alat tangan sesuai prosedur dan standar yang benar.

      2. Uraian Materi (Teori)

      Komponen konstruksi kayu sangat diperlukan karena sebagai penguat dan pengait pada pertemuan kayu yang menjadi rangkaian sebuah benda kerja kriya kayu. Komponen konstruksi atau sambungan banyak kita jumpai namun belum tentu mengenal nama konstruksi tersebut. Penerapannya tergantung dari tempat konstruksi dan fungsinya baik dari beban yang diterima maupun tarikan dari suatu konstruksi atau sambungan dengan yang lain pada benda kerja. Teknik dasar konstruksi pada kayu dapat dibagi menjadi :

      1. Teknik dasar penggabungan bagian-bagian
      2. Teknik dasar penggunaan paku
      3. Teknik dasar penggunaan perekat kayu

      Tenik dasar penggabungan bagian-bagian

      Teknik dasar penggabungan dari satu bagian pada bagian lain ini perlu diketahui bentuknya agar dalam penerapan / penempatan tidak keliru yang mengakibatkan konstrusi patah atau lepas. Teknik dasar tersebut antara lain sebagai berikut :

      1. Sambungan kotak

      Sambungan kotak yang sangat sederhana adalah sambungan antar papan. Sambungan antar papan biasa tanpa ekor burung akan mudah bergerak dan menjadi longgar. Sebaiknya sambungan ini menggunakan teknik sambungan ekor burung . Lihat gambar

      Gambar I :Sambungan ekor burung

      Pola ukuran konstruksi ekor burung yang serba guna yang dibuat dari bahan papan. Cara membuat ukuran  atau membagi ukuran konstruksi / sambungan ekor burung yang tepat. Pembagian yang tepat akan menghasilkan sambungan yang kuat. Lihat gambar

      Gambar II: Pola ukuran konstruksi ekor burung yang serba guna

      Teknik konstruksi / sambungan ekor burung untuk rangka laci atau petii dapat  dilihat pada macam-macam sambungan kotak, laci dengan teknik sambungan tutup belakang. Lihat gambar

      Gambar III :Teknik sambungan tutup belakang

      Sambungan ekor burung khusus sangat kokoh baik kait konstruksi/sambungan maupun daya pegang sehingga kalau sudah tersambung tidak mudah untuk dilepas. Pada umumnya hanya dikenal 2 metode yaitu tegak lurus dan bersudut 45º. Saat pengukuran harus tepat, sebab kalau tidak tepat  konstruksi/sambungan satu dengan yang lain bila ditangkupkan tidak pas. Lihat gambar

      Gambar IV: Sambungan ekor burung tegak lurus

      Gambar V: Sambungan ekor burung bersudut 45°

      1. Bentuk-bentuk panil pintu

      Bentuk panil pintu bermacam-macam, yang dimaksud panil  pintu adalah bagian yang menutupi rangka pintu yang terdapat pada bagian tengah. Model-model panil tersebut biasanya bagian luar ditutup dengan triplek.

      Model-model panil pintu

      1). Panil datar

      Panil datar adalah panil yang paling sederhana. Cara pembuatan panil tersebut adalah papan yang rata dimasukkan kedalam celah rangka pintu. Ketebalan panil sekityar 6 mm hingga 10 mm. Lihat gambar

      Gambar VI: Panil datar

      2). Panil miring

      Panil miring hampir sama dengan panil datar. Papan yang digunakan berbeda sedikit hanya agak miring yaitu sekitar 10 mm sampai 14 mm. Kemiringan sudut tidak boleh terlalu tajam sebab akan berakibat bagian lidah kayu yang masuk ke celah rangka pintu tidak pas. Bagian yang masuk kedalam celah sekitar 7 mm. Lihat gambar

      Gambar VII: Panil miring

      3). Panil miring dan datar

      Panil miring dan datar merupakan jenis modifikasi ( pengembangan bentuk ) panil miring. Pada bagian yang datar penonjolannya tidak boleh melebihi 2 mm tingginya. Pada tutup bagian laci sering digunakan panil tersebut. Lihat gambar

      Gambar VIII: Panil miring dan datar

      4). Panil menonjol sederhana

      Panil menonjol sederhana biasanya dibuat dari kayu dengan ketebalan kurang lebih 15 mm sampai 20 mm. Pada bagian tersebut diberi toleransi celahnya selebar 5 mm. Panil tersebut harus kuat dan kokoh karena ada yang menonjol keluar. Panil menonjol sederhana sering digunakan pada tutup laci Lihat gambar

      Gambar IX: Panil menonjol sederhana

      5). Panil menonjol lengkung

      Panil menonjol lengkung merupakan panil yang dimodifikasi (pengembangan bentuk) dari panil menonjol yang sangat sederhana. Pada bagian sisi panil diberikan sedikit bentuk kombinasi antara lengkungan dan kecembungan agar terlihat seni. Lihat gambar

      Gambar X: Panil menonjol lengkung

      6). Panil merjan

      Panil merjan merupakan panil yang terdapat motip merjan (manik-manik). Kayu yang digunakan dengan ketebalan 10 mm sampai 15 mm. Pada panil merjan kelihatan seninya dan terlihat sangat menarik karena terdapat hiasan berupa merjan. Pengerjaan pada panil merjan tersebut perlu hati hati dan teliti karena nilai jualnya akan semakin mahal. Lihat gambar

      Gambar XI: Panil merjan

      7). Panil cekung

      Panil cekung mempunyai konstruksi yang sangat kuat karena bagian yang masuk kedalam sejajar. Pada bagian cekung dapat diatur berdasarkan ketebalan panil yang akan dibuat. Lihat gambar

      Gambar XII: Panil cekung

      c. Teknik sambungan laci

      Teknik sambungan laci hampir sama dengan teknik konstruksi sambungan pada meja. Perbedaannya hanya kadang dirubah sedikit. Lihat gambar

      Gambar XIII: Teknik sambungan laci

      Gambar XIV: Konstruksi/sambungan bagian laci

      d. Teknik dasar sambungan jembatan T

      Teknik dasar sambungan T, disebut sambungan T karena pada sambungan tersebut membentuk  huruf T. Teknik dasar sambungan T  ada 2 macam antara lain : sambungan jembatan T biasa dan sambungan jembatan buntu. Lihat gambar

      Gambar XV: Sambungan jembatan T biasa

      Gambar XVI: Sambungan jembatan buntu

      e. Teknik dasar sambungan silang

      Teknik dasar sambungan silang merupakan sambungan bersilang dengan membentuk sudut 90º. Bagian yang dilubang setengah tebal balok atau kayu yang dibuat sambungan silang. Lihat gambar

      Gambar XVII: Bagian balok yang akan disambung

      Gambar XVIII: Bagian balok yang telah dilubangi

      f. Teknik dasar sambungan ceruk

      Teknik dasar sambungan ceruk menggunakan metode membuat ceruk pada bagian kayu. Teknik pembuatan sambungan ceruk ini terdiri dari : sambungan ceruk lurus tunggal, sambungan ceruk lurus ganda, sambungan ceruk ekor-burung. Kedalaman ceruk sama dengan ¼ bagian dari tebal kayu. Lebar ceruk sama dengan tebal kayu yang akan dimasukkan. Lihat gambar

      Gambar XIX: Teknik sambungan ceruk

      Pada teknik sambungan ceruk lurus ganda biasanya kayu yang digunakan lebih tebal dan lebih panjang. Sambungan tersebut sering digunakan pada sambungan pintu. Lihat gambar

      Gambar XX: Teknik sambungan ceruk lurus ganda

      Teknik sambungan ceruk ekor burung menggunakan metode ekor burung. Teknik sambungan ekor burung mempunyai cengkeraman sangat kuat baik pergeseran ke depan atau ke belakang tidak akan berubah. Lihat gambar

      Gambar XXI: Teknik sambungan ceruk lurus ganda

      Teknik dasar penggunaan paku

      Paku adalah sebagai alat untuk mengkokohkan atau penguat pada sebuah sambungan. Paku yang digunakan bermacam-macam yaitu paku biasa, paku sekrup, paku sekrup mur dan baut. Cara untuk menyambung adalah menyatukan papan yang hendak disambung hingga melekat dan kuat. Bagian yang akan dipaku diberi tanda silang sesuai jumlah paku yang akan dipasang. Peletakan paku harus diperhatikan serat / urat kayunya, kedudukan paku tegak lurus.

      Gambar XXII: Teknik penggunaan paku sederhana

      Penyambungan 2 papan yang tipis, paku akan mencuat. Pada bagian paku yang mencuat harus ditekuk  dengan pertolongan penumpu papan kayu dan dimasukkan kedalam kayu. Lihat gambar

      Gambar XXIII: Teknik pemakuan pada sambungnan papan tipis

      Paku ulir digunakan untuk sambungan kayu yang lebih bermutu. Sebelum dipaku harus dilubangi terlebih dahulu dengan jara. Maksud pelubangan tersebut adalah untuk memperkuat daya cengkeram. Lihat gambar

      Gambar XXIV: Pengokohan papan dengan paku ulir

      Macam-macam paku

      1). Paku kawat baja

      Paku ini digunakan untuk konstruksi secara umum pada pembangunan dan peti-peti kemas. Bagian kepala paku besar bergores untuk mengurangi meleset waktu dipukul. Leher paku dibuat kasar untuk memantapkan cengkeraman. Panjang paku 18 mm sampai 150 mm. Lihat gambar

      Gambar XXV: Paku kawat baja

      2). Paku berujung tumpul

      Paku berujung tumpul mempunyai penampang bujur sangkar atau persegi panjang. Paku ini gunanya untuk memaku lantai-lantai dan peti kemas. Panjang paku 18 mm sampai 150 mm. Lihat gambar

      Gambar XXVI: Paku berujung tumpul

      3). Paku berpenampang oval

      Paku ini digunakan bagi pemakuan di ujung dan ditepi retakan yang biasa terjadi. Bagian leher paku dibuat kasar untuk memperbesar cengkeraman. Penampang paku oval dengan panjang 12 mm sampai 65 mm. Lihat gambar

      Gambar XXVII: Paku berpenampang oval

      4). Paku berkepala lurus

      Paku berkepala kawat digunakan seperti paku kawat biasa. Kepala paku ini mudah dibenamkan ke permukaan kayu. Ukuran panjang paku 18 mm sampai 75 mm. Lihat gambar

      Gambar XXVIII: Paku berkepala lurus

      5). Paku panel

      Paku panel pada batangnya sangat halus. Paku ini digunakan untuk memaku rangka pintu lemari, bingkai lukisan dan pekerjaan yang rapi. Cara membenamkan kepala paku dengan bantuan drip. Ukuran paku ini 8 mm sampai 40 mm

      Gambar XXIX: Paku panel

      6). Paku vinir

      Paku vinir lebih halus daripada paku panel. Paku ini dugunakan untuk memantapkan posisi lembaran-lembaran vinil yang dipasang kemudian diambil kembali. Lihat gambar

      Gambar XXX: Paku vinir

      7). Paku kain pelapis

      Paku ini mempunyai batang pendek dan kepala berdiameter besar. Paku tersebut digunakan untuk menerapkan kain lakan pelapis langit-langit dan kanvas. Ukuran paku panjang 12 mm sampai 40 mm. Lihat gambar

      Gambar XXXI: Paku kain pelapis

      8). Paku payung

      Paku ini digunakan untuk menerapkan kulit, kain dan jenis pelapis lain pada permukaan kayu. Kepala paku besar dan berbentuk kubah. Paku payung berukuran panjang 12 mm. Lihat gambar

      Gambar XXXII Paku payung

      9). Paku plat kunci

      Paku ini dibuat dari kuningan digunakan untuk menerapkan plat-plat  kunci pintu, biasanya pada kunci kamar mandi, dapur dan lain-lain. Lihat gambar.

      Gambar XXXIII: Paku plat kunci

      Macam-macam sekrup

      1). Sekrup kepala rata

      Sekrup ini digunakan suatu permukaan bisa rata dan dapat dibenamkan sampai kelihatan sedikit. Lihat gambar

      Gambar XXXIV: Sekrup kepala rata

      2). Sekrup kepala bulat

      Sekrup ini biasanya untuk dipasang di luar pada engsel-engsel pintu garasi, kunci pintu pagar dan lain-lain. Lihat gambar

      Gambar XXXV: Sekrup kepala bulat

      3). Sekrup kepala timbul

      Sekrup ini biasanya dilapisi chromium. Sekrup kepala bulat digunakan untuk benda-benda yang dekoratif. Lihat gambar

      Gambar XXXVI: Sekrup kepala timbul

      4). Sekrup Philips dan sekrup Pozidriv ( jenis-jenis sekrup kembang )

      Sekrup ini didesain jenis kepala untuk memberikan posisi yang lebih mantap pada obeng untuk mengurangi kemungkinan meleset pada ujung obeng. Lihat gambar

      Gambar XXXVII: Sekrup Philips dan sekrup Pozidriv

      Cara penyambungan papan atau balok

      Pada materi ini dapat dipelajari cara menyambung papan tebal dengan menggunakan paku. Cara memaku tidak pasti lurus dan sejajar yang miring akan menambah penguatan daya lekatnya. Lihat gambar

      Gambar XXXVII: Sambungan susun tegak lurus.

      Gambar XXXVIII: Cara memaku yang baik

      Gambar XXXIX: Cara menyambung kayu terbelah

      Gambar XXXX: Cara menyambung dengan belahan yang bersudut 45º.

      Gamabar XXXXI: Cara menyambung papan kayu kombinasi paku sekrup

      Teknik dasar penggunaan perekat kayu

      Teknik sambungan ini antara papan harus rapih dan hasilnya akan halus tanpa menggunakan paku. Metode yang digunakan pasak akan menyebabkan sambungan antar papan menjadi kuat. Pada sambungan tersebut terdapat celah disisi cerukan, fungsinya adalah untuk menampung perekat yang berleleran. Daya rekat papan akibat leleran tersebut menjadi kuat. Lihat gambar

      Gambar XXXXII: Teknik sambungan dengan pasak

      B. Kegiatan Pemelajaran 2

      Membuat Sambungan Sederhana

      1. Tujuan Kegiatan Pemelajaran

      Setelah mepelajari modul ini diharapkan dapat

      1. Menyebutkan macam-macam sambungan sederhana
      2. Menyebutkan alat yang digunakan untuk membuat sambungan
      3. Menyebutkan teknik dan prosedur membuat sambungan

      2. Uraian Materi (Praktek)

      Untuk melakukan pembuatan sambungan sederhana, maka harus mengetahui bahan dan alat yang diperlukan

      Bahan dan Alat

      1. Bahan

      1). Kayu mahoni

      Alat

      1). Pensil

      2). Meteran

      3). Perusut

      4). Ketam

      5). Gergaji potong, belah, punggung

      6). Pahat

      7). Palu

      8). Obeng

      9). Bor

      10). Blok ampelas

      11). Ragum meja

      Langkah Kerja

      a. Sambungan tumpul

      1. Menyiapkan kayu dipotong sesuai ukuran bahan yang dibutuhkan
      2. Mengetam bagian sisi-sisinya sampai rata
      3. Memotong dua bagian yang akan dibuat sambungan.
      4. Memasang dua potongan kayu beradu menjadi sudut kotak dengan diperkuat perekat dan paku. Lihat gambar

      Gambar XXXXIII: Sambungan tumpul

      b. Sambungan sponing-lidah

      1. Menyiapkan kayu dipotong sesuai ukuran bahan yang dibutuhkan
      2. Mengetam bagian sisi-sisinya sampai rata
      3. Memotong dua bagian yang akan dibuat sambungan.
      4. Mengambil satu potongan untuk dibuat coakan setebal kayu yang akan disambungkan, kemudian kayu yang satu untuk dipasangkan.
      5. Mengukur ketebalan kayu, lalu menggores menggunakan perusut seporoh tebal kayu dan lebar coakan selebar kayu pasangannya.

      Gambar XXXXIV: Sambungan sponing-lidah

      c. Sambungan alur-lidah

      1. Menyiapkan kayu dipotong sesuai ukuran bahan yang dibutuhkan
      2. Mengetam bagian sisi-sisinya sampai rata
      3. Memotong dua bagian yang akan dibuat sambungan.
      4. Sepotong kayu yang ujungnya diberi berlidah. Cara membuat separoh dari tebal kayu digores dengan perusut untuk dilubang selebar tebal kayu.
      5. Sepotong kayu yang ujungnya diberi alur untuk menerapkan kayu yang berlidah.
      6. Sambungan diperkuat dengan perekat dan paku.

      Gambar XXXXV: Sambungan alur-lidah

      d. Sambungan sudut miring

      1. Menyiapkan kayu dipotong sesuai ukuran bahan yang dibutuhkan
      2. Mengetam bagian sisi-sisinya sampai rata
      3. Memotong dua bagian yang akan dibuat sambungan.
      4. Memotong kedua bagian pada ujung kayu menyudut selebar tebal kayu
      5. Untuk menambah kekuatan jenis sambungan dengan melakukan coakan-coakan melalaui sudut sambaungan tersebut, kemudian memasukkan potongan kayu tipis yang diberi perekat.

      Sambungan miring ini digunakan untuk menyambung papan-papan lis di sudut ruangan.

      Gambar XXXXVI: Sambungan sudut miring

      e. Sambungan sudut miring yang diberi sponing

      1. Menyiapkan kayu dipotong sesuai ukuran bahan yang dibutuhkan
      2. Mengetam bagian sisi-sisinya sampai rata
      3. Memotong dua bagian yang akan dibuat sambungan.
      4. Membuat sponing dan sudut miring pada ketebalan kayu dengan cara tebal kayu bagian ujungnya dibagi dua sebagian disponing dan di buat sudut miring.
      5. Sambungan ini dapat dipaku. Lihat gambar

      BAB III

      hasil Video

      EVALUASI

      Soal

      1. Sebutkan alat yang digunakan untuk pekerjaan membuiat sambungan sederhana !
      2. Sebutkan 3 macam sambungan apa saja yang anda ketahui?
      3. Mengapa pekerjaan waktu memasang paku tidak harus lurus?
      4. Bagaimana cara membuat sambungan alur lidah?
      5. Berapa kedalaman ceruk pada teknik dasar sambungan ceruk?

      Rambu-rambu jawaban

      1. Lihat halaman 22 dari modul yang anda pelajari.
      2. Bacalah halaman 23 sampai 25 dari modul ini.
      3. Perhatikan modul ini pada halaman 20.
      4. Coba baca halaman 24 dari modul ini
      5. Halaman 14 perlu and baca.

      DAFTAR PUSTAKA

      John Stefford dan Guy McMurdo. 1986. Teknologi Kerja Kayu. Jakarta : Erlangga

      Priatna Eka S. 1996. Aneka Cara Menyambung Kayu. Jakarta : PT.Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara

      Ruslani, BA. 1983. Pertukangan Kayu 2. Bandung : Angkasa

      Hello world!

      •19/03/2010 • 1 Comment

      Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

       
      Follow

      Get every new post delivered to your Inbox.